artikel

on Kamis, 28 Mei 2009

“jika hari ini lebih baik dari hari kemarin kita termasuk golongan yang beruntung jika hari ini sama dengan hari kemarin, berarti kita termasuk golongan manusia yang merugi, sedang jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin kita termasuk golongan manusia yang celaka”

Tak bisa dipungkiri bahwa manusia selalu berubah sesuai dengan kehidupan manusia yang dinamis. Perubahan-perubahan apa saja yang perlu kita lakukan?

Manusia tercipta dari segumpal darah yang merupakan hasil pertemuan antara ovum ibu dengan sperma ayah. Kemudian berkembang menjadi zigote, dan seterusya akhirnya menjadi janin. Janin inilah yang akan menjadi manusia seperti kita.

Setelah kita muncul ke dunia ini, apa yang kita pikirkan? Bahagiakah? Atau malah menyesali kemunculan kita? Tantangan demi tantangan akan menghadang kita, dari yang kita prediksikan akan terjadi maupun yang benar-benar diluar dugaan kita, bahkan diluar jangkauan kita. Senyum dan tangisan akan mewarnai kehidupan manusia.

Jika kita menemui keadaan yang menyenangkan kita akan tersenyum dan beranggapan bahwa dunia memang baik hati. Kita langsung berterima kasih kepada tuhan. Tuhan memang baik pada kita.

Tapi jika kita menemui kondisi yang sangat tidak mengenakan pada diri kita, kita langsung berpikir bahwa dunia jahat pada kita. Tuhan tidak sayang pada kita. Bahkan sampai kita lupa bahwa teori kausalitas berlaku. Kemudian timbul pikiran bahwa ia adalah mnusia yang paling sial.

Perubahan status

Setelah kita melepaskan seragam putih biru, kita mengenakan seragam putih abu-abu. Dari yang memakai celana pendek menjadi celana panjang. Aurat kita semakin tertutup karena kita dianggap sudah dewasa. Guru-guru pun berubah cara pengajarannya. Kalau di SLTP kita selalu dipantau perilaku kita, maka di SLTA semakin diperlonggar. Materi pelajaran pun semakin kompleks dan sulit. Dibutuhkan keseriusan yang lebih dalam belajar apabila kita ingin survive.

Ketika kita naik ke kelas XI kita dihadapkan pada pemilihan jurusan. Mau tidak mau kita mesti arif dalam memilih jurusan. Kita harus mampu melihat kondisi diri kita. Salah jurusan bisa berakibat fatal. Emosi kita wajib kita redam karena ada fenomena jurusan yang bergengsi. Apabila kita mengejar gengsi atau kita memilih jurusan bukan karena kemampuan diri kita ( misal kita mengikuti jurusan dari orang yang kita senangi) berarti kita mengejar kesenangan sesaat tanpa memikirkan tujuan akhir dari pembelajaran.

Disinilah sebenarnya hakekat dari proses perubahan menuju pendewasaan dalam kurun waktu pembelajaran di SMA. Secara hukum, kita akan mengalami usia yang dianggap dewasa dimana kita akan mengalami “sweet seventeen” yang akan memberikan hak-hak dan kewajiban kita sebagai warga negara. Kita siap berperan aktif dalam perpolitikan bangsa. Di sinilah kedewasaan kita terakui secara sah. Kita berhak mengendarai kendaraan bermesin, kita mendapat kesempatan menentukan pemimpin bangsa.

Dan yang lebih penting lagi, dengan kedewasaan kita sudah boleh mengenal lawan jenis kita untuk belajar mencintai dan dicintai sebagi kebutuhan sosial dari manusia. Biasanya dalam kasus inilah remaja mengalami banyak permasalahn. Karena hal ini sangat berhubungan dengan emosi remaja yag masih dalam tahap pencarian jati diri. Sifat egonya sering muncul karena perkembangan emosi dari keluguan menuju kematangan emosi. Pada masa transisi inilah sebenarnya kita mesti berhati-hati agar tidah salah arah dalam memilih setiap tindakan.

Menuju kedewasaan yang diinginkan

Apa itu dewasa? Banyak orang menginginkan “gelar” itu. Kita akan merasa bangga dan senang apabila dianggap dewasa, dan sebalinya kita akan benci apabila dianggap tidak dewasa. Karena “gelar” kedewasaan itu akan membawa kita pada status tertentu yang akan berhubungan dengan peran kita dalam kehidupan. Semakin dewasa kita akan semakin banyak hak-hak yang akan kita peroleh. Tentunya dengan segala kewajibannya. Tetapi apakah kita tahu konsep kedewasaan itu sendiri?

Banyak pendapat tentang konsep kedewasaan. Bahkan kita punya konsep sendiri tentang kedewasaan itu. Kedewasaan adalah yang sesuai dengan kondisi kita. Kita dengan mudah akan mengatakan bahwa orang lain tidak lebih dewasa dari kita. Orang tua kita, guru kita, yang tidak sesuai dengan pola pemikiran kita, kita anggap kurang dewasa. Paradigma semacam inilah yang membuat konsep kedewasaan menjadi bias.

Aspek-aspek menuju kedewasan

1. Identitas diri.

Remaja sebelum mngalami masa pubertas biasanya belum berpikir tentang identitas atau jati dirinya, karena mereka belum memiliki kemandirian, termasuk dalam persoalan identitas. Sering mereka mengidentifikasi dirinya dengan orang tuanya. Namun, ketika anak memasuki fase kedewasaan biologis (baligh/ puber), ia mulai merasakan adanya tuntutan untuk mandiri, termasuk dalam persoalan identitas. Apa yang sebelumnya belum terlintas di dalam pikiran, kini mulai menjadi hal yang serius. Pertanyaan seperti ”siapa saya sebenarnya?” dan ”apa tujuan hidup saya?” mulai menuntut jawaban-jawaban yang mandiri.

Pada titik ini, idealnya remaja sudah siap untuk menjadi mandiri dan dewasa. Seorang yang memiliki karakter dewasa tidak merasa bingung dengan identitas dirinya. Ia mengetahui dengan baik siapa dirinya dan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Identitas pada diri orang dewasa tadi menjadi kokoh seiring dengan terbentuknya nilai-nilai (values) serta prinsip-prinsip yang mendukung.

Dalam kaitannya dengan identitas, seseorang biasanya akan mengaitkan dirinya dengan salah satu dari hal berikut: agama atau ideologi, suku atau bangsa, serta profesi. Seorang santri misalnya, ia akan cenderung menyatakan ”Saya adalah seorang Muslim” saat ditanya tentang siapa dirinya. Adapun orang yang hidup dalam komunitas kesukuan yang kental akan lebih mengaitkan identitas dirinya dengan sukunya. Seseorang bisa saja memiliki lebih dari satu identitas pada saat yang bersamaan – misalnya sebagai Muslim, sebagai orang Jawa, dan sebagai pengusaha sekaligus – tetapi biasanya ada satu identitas yang lebih bersifat dominan dan menjadi identitas utama.

Suatu identitas perlu dikokohkan oleh nilai-nilai (values) serta prinsip yang mendukungnya, sebab kalau tidak demikian, maka identitas tersebut hanya akan bersifat artifisial dan tidak konsisten. Sebagai contoh, misalnya seorang menyatakan bahwa identitas utamanya adalah Muslim, tetapi ia tidak memahami nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam serta banyak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agamanya. Oleh karena itu, membangun identitas diri pada anak harus dilakukan dengan membangun nilai-nilai serta prinsip-prinsip yang menopang tegaknya identitas tersebut. Secara lebih jelas bahwa remaja itu mempunyai jargon “kutahu yang kumau”

2. Tujuan dan Visi dalam Hidup

Adanya tujuan dan visi dalam hidup juga sangat membantu terbentuknya identitas diri dan kedewasaan pada diri seseorang. Remaja pra-pubertas biasanya belum berpikir tentang tujuan dan visi hidup. Seperti pada aspek pencarian identitas mereka pun masih bergantung pada tujuan dan rencana-rencana orang tuanya. Orang yang memiliki karakter dewasa mengetahui dengan baik apa-apa yang menjadi tujuan dan cita-citanya, walaupun tidak semua orang yang berusia dewasa dapat dipastikan memiliki ciri-ciri ini. Tujuan dan visi juga terkait erat dengan identitas diri. Jika seseorang menjadikan agama sebagai identitas, maka cita-cita hidupnya juga tentu akan merujuk pada nilai-nilai agama. Jika ia menjadikan profesi dan pekerjaan sebagai identitas, maka cita-cita hidupnya juga tentu merujuk pada profesi dan pekerjaannya.

Dalam konteks pendidikan kedewasaan remaja, idealnya seseorang telah diorientasikan untuk berpikir tentang tujuan dan cita-citanya sejak ia masih kecil dan belum memasuki masa puber. Bila tujuan hidup serta visi yang tinggi ditanamkan secara terus menerus, maka pada saat ia sudah mulai harus mandiri, yaitu pada masa baligh, ia akan memiliki arah hidup yang jelas. Ia tak lagi merasa bingung dengan apa yang sesungguhnya menjadi keinginannya, sebagaimana yang seringkali dialami oleh remaja-remaja modern.

Pihak orang tua maupun guru di sekolah tidak boleh meremehkan cita-cita seorang anak yang sangat tinggi dan tampak mustahil. Mereka justru harus memandangnya secara positif dan mendorongnya, sambil mengarahkan anak pada langkah-langkah yang harus dipenuhi untuk mencapai cita-cita tadi – tentunya sesuai dengan kapasitas berpikir dan bertindak mereka. Dengan demikian, sejak awal anak-anak dan remaja akan disibukkan dengan tujuan dan cita-cita mereka, sehingga tak lagi memiliki banyak kesempatan untuk membuang-buang waktu mereka tanpa adanya tujuan yang jelas.

3. Pertimbangan dalam Memilih

Al-Qur’an mengajarkan bahwa ada dua dasar pertimbangan dalam memilih, yaitu berdasarkan suka-tak suka atau berdasarkan baik-buruk. Al-Qur’an, serta akal sehat kita, mengajarkan bahwa pertimbangan baik-buruk lebih baik daripada pertimbangan berdasarkan suka-tak suka. ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2: 216).

Remaja cenderung memilih sesuatu berdasarkan pertimbangan suka-tak suka. Bila ia menyukai sesuatu, maka ia akan menginginkan dan berusaha untuk mendapatkannya. Bila ia tak menyukainya, maka ia akan berusaha menolaknya walaupun sesuatu itu mungkin baik untuknya. Orang yang memiliki karakter dewasa memilih dengan dasar pertimbangan yang berbeda. Mereka menimbang sesuatu berdasarkan baik buruknya. Walaupun ia cenderung pada sesuatu, ia akan menghindarinya sekiranya itu buruk bagi dirinya. Tentu saja ini merupakan sebuah gambaran yang ideal. Pada realitanya, banyak juga dijumpai orang-orang yang berusia dewasa tetapi melakukan hal-hal yang buruk hanya karena mereka menyukai hal-hal tersebut.

Pendidikan yang baik seharusnya mampu mengarahkan anak setahap demi setahap untuk mengubah dasar pertimbangannya dari suka-tak suka menjadi baik-buruk. Dalam hal ini, komunikasi dengan anak memainkan peranan yang sangat vital. Kepada anak-anak perlu dijelaskan alasan baik-buruknya mengapa sesuatu tidak boleh dilakukan atau mengapa sesuatu harus dilakukan. Dengan demikian mereka memahami alasan baik-buruk di balik boleh atau tidaknya suatu pilihan.

Kepada mereka juga perlu dijelaskan konsekuensi dari pilihan-pilihan yang ada. Biarkan anak melihat pilihan yang mereka miliki, yang baik serta yang buruk, berikut resiko yang ada di baliknya. Ajak anak untuk menetapkan sendiri pilihannya, bukannya memaksakan pilihan-pilihan yang kita buat, dengan demikian ia akan menjadi lebih bertanggung jawab dengan pilihan-pilihan yang diambilnya itu. Semua proses ini akan membantu kematangan berpikir anak dan menjadikannya lebih bertanggung jawab. Setiap kali ia hendak menentukan pilihan, ia sudah terlatih dengan kebiasaan berpikir yang berorientasi pada pertimbangan baik-buruk. Dengan demikian, ketika ia menginjak usia belasan tahun, ia sudah bisa mengambil keputusan-keputusan yang positif secara mandiri. Ia tidak akan mudah terombang-ambing dengan ajakan-ajakan orang lain yang tidak menguntungkan bagi kepentingan jangka panjangnya dan juga tidak akan menentukan pilihan-pilihan secara asal dan tak bertanggung jawab. Dan tindakan yang akan diambil adalah tindakan rasional instrumental.

4. Tanggung Jawab

Setiap orang melewati beberapa fase tanggung jawab dalam perjalanan hidupnya. Ketika masih anak-anak dan belum memiliki kemampuan untuk mengemban tanggung jawab, maka orang tuanyalah yang memikul tanggung jawab untuknya, sampai ia mampu memikulnya sendiri. Fase ini bisa disebut sebagai fase pra-tanggung jawab. Ketika anak beranjak dewasa, kemampuannya dalam memikul tanggung jawab juga meningkat. Pada saat itu, sebagian dari tanggung jawab, yaitu tanggung jawab yang sudah mulai bisa dipikulnya, bisa didelegasikan oleh orang tua kepada anak. Fase ini bisa disebut fase tanggung jawab parsial.

Ketika seseorang sudah hidup mandiri sepenuhnya, dalam arti ia sudah menikah dan bermatapencaharian, maka ia memasuki fase tanggung jawab penuh. Tanggung jawab sudah didelegasikan kepadanya secara penuh. Akhirnya, seseorang bisa memperluas tanggung jawabnya sesuai dengan kapasitas dirinya. Ia bisa menjadi pemimpin di lingkungan keluarga besarnya, di lingkungan masyarakatnya, bahkan di tingkat nasional atau internasional.

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, kita perlu membiasakan diri dengan latihan-latihan tanggung jawab yang sesuai dengan kapasitas kita. Remaja yang tumbuh tanpa pembiasaan tanggung jawab semacam ini akan cenderung merasa berat dan memberontak pada saat ia harus menerima apa yang menjadi tanggung jawabnya. Ia memiliki kapasitas untuk mengemban tanggung jawab tertentu, tetapi malah bersikap tidak dewasa dengan membenci dan menolak tanggung jawab itu atas dirinya. Semua itu terjadi karena ia tidak pernah dididik dan dipersiapkan untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar.

Sekolah sebagai wadah latihan latihan inilah akan mendidik remaja menuju ke arah itu. Sosialisai yang diteruskan dengan internalisasi yang terus menerus akan menyebabkan internalized dan menciptakan “sense of responbility”

Untuk itulah teman-teman, jadikanlah kampus kita sebagai kawah candradimuka untuk penciptaan kedewasaan kita bersama. Dengan kerja sama yang sinergis antara siswa guru dan sivitas akademika yang terjalin dalam persahabatan yang kental bagai kepompong yang akan mengubah ulat menjadi kupu-kupu


0 komentar:

Posting Komentar